Kamis, 27 Juni 2013

RENUNGAN TENTANG KESABARAN

Seorang anak mengeluh pada ayahnya; “Aku capek, sangat capek. Aku belajar mati²an sedangkan temanku dengan enaknya menyontek. Aku mau menyontek saja. Aku capek karena harus menjaga lidahku, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati. Aku capek ayah, aku capek menahan diri, mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah...!!!!” (sang anak mulai menangis.)

Sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya, ”Anakku, ayo ikut ayah...!!!”

*Lalu mereka menyusuri jalan yang jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.

”Ayah, mau kemana kita...??? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena banyak ilalang, aku benci jalan ini ayah...!!!” (anaknya terus mengeluh.)

Akhirnya mereka sampai di sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu², bunga² yang indah, dan pepohonan rindang.

“Wah… tempat apa ini ayah...??? Aku suka tempat ini...!!!” (kata sang anak dengan senyum indah di wajahnya.)

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah. Anakku, taukah engkau mengapa di sini begitu sepi padahal amat indah...???” (tanya sang ayah.)

“Tidak Ayah...!!!” (jawab sang anak.)

“Itu karena orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini. Mereka hanya kurang sabar dalam menyusuri jalan ini...!!!” (jawab sang ayah.)

“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan...!!!” (tutup sang ayang sambil memeluk anaknya.)

*****
Sahabat Hidup adalah perjuangan untuk mengendalikan dan mengalahkan diri.

Jalanilah hidup ini dengan penuh kesabaran. Insya Allah kita akan dimudahkan. Aamiin.

SALING BERKAITAN

Ketika burung hidup, ia makan semut
Ketika burung mati, semut makan burung

Jadi, waktu berputar kapan saja.
Jangan merendahkan siapapun dalam hidup.

Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain
bukan karena siapa mereka, tetapi
karena siapakah diri kita sendiri

Kita mungkin berkuasa tapi
waktu lebih berkuasa daripada kita

Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api
 tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon

Jadi..
Satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif 
maka BERPIKIRLAH POSITIF !!

PERBINCANGAN AYAH DAN ANAK

Seorang anak bertanya kpd ayahnya :
"Ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang agar nyamuk itu tdk menggigit anaknya. Apakah Ayah juga akan melakukan hal yang sama?".

Sang Ayah tertawa "Tidak nak, ayah akan memasangkan kelambu agar nyamuk tidak dapat menggigit siapapun".

"Oh iya, aku juga membaca tentang seorang Ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?", si anak kembali bertanya.

Dgn tegas Ayahnya menjawab "Ayah akan bekerja keras agar kita semua dapat makan kenyang."

Sang anak tersenyum...dan berkata
"Terimakasih..Aku bisa selalu bersandar padamu Ayah.."

Sambil memeluk dan mengusap rambut sang anak, si Ayah berkata "Tidak Nak..!! Tapi aku akan mengajarmu untuk berdiri kokoh diatas kakimu sendiri, agar kau tidak jatuh tersungkur ketika aku harus pergi meninggalkanmu".

Senin, 24 Juni 2013

HIDUP ITU SANGAT SIMPLE

Jika ada orang bicara mengenai kita di Belakang,
itu adalah tanda bahwa kita sudah ada di Depan..

Saat orang bicara merendahkankan diri kita,
itu adalah tanda bahwa kita sudah berada di tempat yang lebih Tinggi.

Dan saat orang bicara dengan nada Iri mengenai kita,
itu adalah tanda bahwa kita mempunyai kebaikan walaupun hanya sedikit.

Bukankah saat orang bicara Buruk mengenai kita,
itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya Lebih Indah dari mereka?

Jadi,Tetaplah Berpikir Positif dan jangan pernah merasa tersudut dengan kata-kata yang seringkali menyudutkan diri kita.

KISAH SEORANG MURID

Saya seorang Guru SD yang mengajar di jam sore hari. Salah seorang murid saya setiap hari datang terlambat ke sekolah. Tas dan bajunya selalu kotor dan setiap kali saya bertanya tentang baju dan tasnya yang selalu kotor itu, dia hanya terdiam.

Saya masih bisa bersabar dengan keadaan pakaiannya. Tetapi kesabaran saya benar2 diuji dgn sikapnya yg setiap hari datang terlambat.

Pada mulanya saya hanya memberi nasehat. Dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata kecuali anggukan yang seolah-olah dipaksakan.

Kali kedua saya memarahinya, dia masih juga mengangguk tetapi masih juga datang terlambat keesokan harinya.

Kali ketiga, saya terpaksa
menjalankan janji saya untuk memberi hukuman yaitu dengan memukulnya kalau masih terlambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untuk dipukul. Air matanya saja yang berjatuhan tanpa berucap sepatah katapun dari mulutnya.

Keesokan harinya dia masih juga terlambat dan saya memukulnya lagi. Namun ia masih tetap datang ke sekolah dan masih tetap datang terlambat.

Suatu hari saya berencana untuk menyelidikinya ke rumahnya. Setelah mendapat alamatnya, saya melanjutkan niat saya. Ternyata dia tinggal di sebuah kawasan bukit yang tidak begitu jauh dari sekolah. Keadaan rumahnya sungguh sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak layak huni.

Saya melihat murid saya itu sedang berdiri di depan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan. Kurang lebih pukul 1.30 siang, seorang anak lelaki sedang berlari-lari sekuat tenaga menuju rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya.

Sampai di depan rumah, baju dan tasnya diserahkan kepada murid saya yang langsung bergegas memakainya. Sebelum pakaian sekolahnya sempurna dikenakan, dia sudah berlari ke arah sekolah.

Saya kembali ke sekolah dengan perasaan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil
menahan air mata yang mulai tergenang. "Maafkan Ibu ya. Tadi ibu pergi ke rumah kamu dan memperhatikan kamu dari kejauhan. Siapa yang berlari memberi kamu baju tadi ?".

Dia terkejut dan wajahnya berubah. "Itu kakak saya. Kami bergantian baju dan tas sebab tidak ada baju lain lagi. Hanya baju dan tas itu yang ada. Maafkan saya, Ibu", jawabnya.

"Kenapa kamu tidak memberitahu Ibu dan kenapa kamu biarkan saja ketika ibu memukul kamu?"

"Ibu saya berpesan, jangan meminta-minta kepada orang dan jangan ceritakan kemiskinan kita pada orang. Kalau Ibu Guru mau menghukum dan memukul, serahkan saja punggung kamu".

Sambil menahan air mata yang mulai berguguran, saya memeluk anak itu, "Maaf Ibu..." Kejadian itu cukup menyadarkan saya. Setelah itu saya mencoba untuk membantunya sekuat yang aku mampu.

Semoga bisa menjadi bahan renungan kita bersama, untuk terus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini